Semangat Berkurban

PEMERINTAH Republik Indonesia memutuskan Iduladha jatuh pada Rabu (17/11). Keputusan ini sah, sebab setiap negara memiliki mathla’ (posisi pandang) sendiri. Meskipun selisih satu hari dibandingkan dengan perayaan serupa yang diselenggarakan Kerajaan Arab Saudi, diharapkan hari raya kurban ini mampu memberikan semangat agar setiap anak bangsa lebih suka berkurban. Sebaliknya, semangat kurban diharapkan mampu memutus nafsu mengorbankan orang lain, apalagi mengorbankan bangsa dan negara untuk kepentingan diri sendiri dan kelompok.

Ajaran kurban berawal dari wahyu Allah kepada Nabi Ibrahim a.s. untuk mengorbankan anaknya, Ismail a.s. Sebagai manusia, Ibrahim tidaklah tega membunuh anaknya yang baru menginjak usia dewasa. Apalagi, Ismail adalah anak kesayangan yang kelahirannya ditunggu bertahun-tahun. Maklum, Ibrahim menikah dengan Siti Sarah tidak kunjung dikaruniai anak. Setelah menikah dengan Siti Hajar, Bapak Para Nabi ini kemudian memiliki anak, Ismail. Dengan Siti Sarah pun, Ibrahim akhirnya memiliki anak bernama Ishak.

Meskipun dalam hati Ibrahim tidak tega harus mengorbankan anaknya, ia tetap menyampaikan wahyu itu kepada Ismail. Sebagai anak yang saleh dan taat kepada Allah SWT, Ismail tidak mengelak dari takdirnya untuk dikorbankan. Itulah sebabnya, meskipun ayahnya sempat ragu-ragu, Ismail terus meyakinkan ayahnya bahwa dirinya ikhlas dan siap menjalankan perintah Allah. Keraguan Nabi Ibrahim menyembelih anaknya itulah yang kemudian melahirkan ajaran melontar Jamarat sebagaimana yang dilakukan jemaah haji mulai Selasa (16/11) sampai tiga hari ke depan.

Pertempuran Nabi Ibrahim melawan godaan setan dimenanginya. Ia memilih untuk mengorbankan anaknya meskipun Ismail merupakan miliknya yang paling berharga. Anak adalah permata hati yang selalu menjadi kebanggaan orang tua, yang kelak mampu meneruskan cita-citanya. Akan tetapi, perintah Allah lebih utama daripada segalanya. Allah adalah kekal dan memiliki otoritas atas segala sesuatu di bumi dan langit serta segala isinya. Dibandingkan dengan kebesaran Allah, kebesaran anak dan harta benda tidaklah ada apa-apanya.

Itulah sebabnya, Nabi Ibrahim kemudian memutuskan untuk menyembelih anak yang disayanginya demi perintah Allah SWT. Akan tetapi, Sang Khalik lebih Maha Penyayang kepada umat-Nya. Itulah sebabnya, Allah merasa cukup dengan pengorbanan Ibrahim atas sesuatu yang paling berharga miliknya dan meminta mengganti menyembelih anaknya dengan hewan sembelihan. Ajaran inilah yang kemudian diwariskan Islam dengan nama Iduladha atau Idulkurban.

Dalam praktiknya, menurut syariat, umat Islam disunatkan melaksanakan puasa, 9 Zulhijah, untuk menghormati jemaah yang tengah melaksanakan wukuf di Arafah. Pada 10 Zulhijah, kaum Muslimin melaksanakan Iduladha dengan melaksanakan salat sunat, dilanjutkan dengan penyembelihan hewan kurban selama hari tasyrik, tiga hari berikutnya.

Salah satu hikmah Iduladha yang sangat relevan dipetik bangsa Indonesia saat ini adalah semangat berkurban. Ini adalah semangat setiap anak bangsa memberikan kontribusi bagi kejayaan bangsa dan negara. Indonesia yang berjaya dan beradab berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa hanya bisa terwujud sebagai akumulasi dari kontribusi terbaik setiap warga negara.

Rasulullah Muhammad saw. dan para sahabat mempraktikkan ajaran Ibrahim ini secara baik. Itulah sebabnya, mereka selalu memberikan kontribusi terbaik yang dimilikinya, mulai dari harta benda, emas, ternak, bahkan jiwa satu-satunya untuk kejayaan Islam. Semangat inilah yang kemudian mampu menaklukkan kerasnya hati kaum Quraisy dan melumat kejahiliahan bangsa Arab.

Jika semangat yang sama dilakukan di Indonesia, niscaya bangsa yang masih dipandang sebelah mata oleh negara yang sudah terlebih dahulu maju, bahkan semakin tidak dipandang oleh negara tetangga yang telah melampaui kita, akan dapat diatasi. Caranya, semangat berkontribusi setiap anak bangsa harus dihidupkan. Semakin besar sokongan mereka atas tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia, semakin tinggi kebanggaan yang dimilikinya.

Semangat ini sekaligus akan memupus moral hazard yang selalu merongrong kekayaan negara, yang notabene adalah harta rakyat. Tindakan koruptif, manipulatif, dan kongkalikong yang semakin "populer" di kalangan bangsa Indonesia di semua strata adalah tindakan kontraproduktif yang bertentangan dengan semangat berkurban. Kenyataannya, kebejatan tersebut telah menjerumuskan bangsa Indonesia kepada derajat kemanusiaan yang paling rendah.

Akibat terkurasnya uang negara oleh oknum secara ilegal, bangsa ini terus berutang kepada negara donor. Ketidakmandirian menyebabkan bangsa ini tidak merdeka secara politis. Kesulitan ekonomi di tanah air menyebabkan sebagian warga terpaksa mengais rezeki di luar negeri dengan menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) meskipun mereka tidak memiliki keterampilan yang memadai. Tiadanya keterampilan, lagi-lagi akibat kesulitan ekonomi yang menyebabkan pendidikan mereka rendah. Oleh karena itu, menghentikan arah perjalanan bangsa yang salah dilakukan dengan membangkitkan semangat berkurban ini.

0 komentar:

Poskan Komentar

Archives